HEDONISME
Hedonisme adalah
pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari
kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan
yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa
kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
Bagi
para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan
tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena
mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin
menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini,
hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa
batas. Dari golongan penganut paham inilah muncul Nudisme (gaya
hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang
menyatakan,"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena
besok engkau akan mati".
Hedonisme
adalah derivasi (turunan) dari liberalisme.Sebuah pandangan hidup bahwa
kesenangan adalah segalanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi kaum hedonis,
hidup adalah meraih kesenangan materi: sesuatu yang bersifat semu, sesaat, dan
artifisial. Pandangan ini lahir di Barat, yang memuja kebebasan
berperilaku.masih ada sekelompok manusia yang menyandarkan falsafah hidupnya
hanya untuk meraup kesenangan. Ia tidak peduli kesenangan yang didapat dia
tempuh dengan cara apa. Baginya, kesenangan adalah satu-satunya
kebaikan.Prinsip hidup “asal senang” ini adalah prinsip hidup
kaum hedonis.
Faktor
yang Mempengaruhi Hedonisme
Gaya
hidup hedonisme tentu ada penyebabnya. Ada banyak faktor ekstrinsik (faktor
yang datang dari luar) yang memicu emosi mereka menjadi hamba hedonism, antara
lain :
1. Orang
tua dan kaum kerabat
Orang
tua dan kerabat adalah penyebab utama generasi mereka menjadi hedonisme. Orang
tua lalai untuk mewarisi anak dengan norma dan gaya hidup timur yang punya
spiritual.
2. Faktor
Bacaan
Faktor
bacaan memang dapat mencuci otak mahasiswa untuk menjadi orang yang memegang
prinsip hedonisme. Mereka senang dengan bacaan mengenai trend atau gaya hidup terbaru
dan entertainment sehingga timbul keinginan untuk mengikuti atau menirunya.
3. Pengaruh
tontonan
Pengaruh
tontonan, tayangan televisi (profil sinetron, liputan tokoh selebriti dan
iklan) juga mengundang mahasiswa untuk mengejar hedonisme. Majalah remaja
popular dan kebanyakan tema televisi sama saja. Isinya banyak mengupas tema
tema berpacaran, ciuman, pelukan, perceraian, pernikahan.hamil di luar nikah
dan bermesraan di muka publik.
Gejala
hedonisme ?
Rasa
gengsi tinggi yang diperoleh dari menonjolkan merek-merek terkenal dan mahal,
atau simbol-simbol kemewahan lainnya adalah merupakan gejala umum sekarang ini.
Lihat saja di kota-kota besar saat ini semakin banyak bermunculan butik-butik
atau toko-toko pakaian dan perlengkapan lainnya yang merupakan barang impor dan
bermerek dengan harga yang fantastis mahal.
Pengajaran
atau konsep moral dari Hedonisme adalah menyamakan kebaikan dengan
kesenangan.Jadi semua kesenangan dan kenikmatan secara fisik selalu membawa
kebaikan. Pandangan hidup ini mengajarkan pada pengikut atau mereka yang siap
mengikutinya bahwa pemujaan terhadap kesenangan dan kenikmatan dunia harus
dikejar, dan itulah tujuan hidup yang paling hakiki bagi manusia.
Sikap
dalam menghadapi Budaya Hedonisme :
Untuk
mengantisipasi pengaruh negatif budaya hedonisme bagi mahasiswa perlu diadakan
sosialisasi, yaitu :
1. Perlunya
kearifan dalam memilih barang agar tidak terjebak dalam konsumerisme.
2. Menanamkan
pola hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
3. Dalam
memilih barang mahasiswa perlu membuat skala prioritas dalam berbelanja
sehingga dapat membedakan barang apa yang benar-benar diperlukan dan
barang-barang yang diinginkan namun tidak diperlukan.
4. Penerapan
pola hidup sederhana dalam kegiatan sehari-hari diperlukan untuk mengatur
keuangan mahasiswa agar pendapatan yang biasanya berasal dari orang tua
tidaklah lebih kecil daripada pengeluaran.
5. Adanya
kedewasaan dalam berpikir sehingga kita dapat membentengi diri dari pola hidup
konsumerisme.
6. Bergaul
dengan siapa saja namun kita dapat membatasi diri dan tidak terjerumus kedalam
hal-hal yang negatif seperti hedonisme.
7. Membahagiakan
diri sendiri itu penting, namun jangan juga keterusan dan melebihi batas
kemampuan kita, sehingga berujung menghalalkan segala cara.
8. Menyeimbangkan
dan bersiteguh dengan kaidah-kaidah agama yang kita anut dan norma masyarakat
yang berlaku, dan membekali diri dengan keyakinan bahwa sesuatu yanh berlebihan
itu tidaklah baik.
Memilih
gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah memberikan kepuasan dan
kebahagiaan. Ibarat minum air garam, makin diminum makin haus.Bagi yang belum
terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka segeralah berbalik arah, berubah
seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagian hidup ada pada hati yang
bening, saatnya bagi kita kembali untuk menyuburkan akar-akar spiritual-
kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada sesama, buang jauh-jauh
karakter selfish (mementingkan diri
sendiri), dan miliki multi kekuatan – kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan
berkomunikasi, kuat beribadah, dan kuat mencari rezeki.
#diambil dari berbagai sumber
No comments:
Post a Comment